Mewaspadai Infiltrasi Iblis dalam Rumah Tangga

Mewaspadai Infiltrasi Iblis – Sobat muslimah, kehidupan rumah tangga dalam Islam adalah kehidupan yang penuh ketenangan. Mengapa?

Karena Allah swt telah memberikan aturan yang akan memberikan perlindungan dari berbagai ancaman, baik yang berasal dari jin maupun manusia.

Saya merasakan sendiri bagaimana ketika aturan Allah dalam rumah tangga itu dijalankan, maka menjadi lebih tenang.

Sebaliknya, jika ada pengabaian ada muncul was-was dan berbagai kegelisahan.

Awal Pernikahan

Di awal pernikahan, saya merasa sudah cukup percaya diri memiliki ilmu dalam berumah tangga. Tapi rupanya saudara, masa-masa adaptasi di awal itu lebih banyak godaan mautnya.

Ada sedih, kesal, marah, tapi banyak juga senangnya sih..hee.

Sampai akhirnya saya berkesimpulan, saya sebagai perempuan sangat mudah sekali mengiyakan bisikan-bisikan syetan.

Hingga saya menjadi ibubil alias ibu-ibu labil, padahal sudah membaca buku-buku pengetahuan tentang rumah tangga dari berbagai referensi.

Contoh yang sering muncul dalam benak di saat itu adalah,

“sudah menikah jadi ribet ndak bisa kesana kesini sesuka hati; enak banget yang masih single bisa berkontribusi aktif dalam pergerakan; ya Allah padahal pergi keluarnya cuma sampe asar tapi ko beliau kurang suka yaa, padahal dulu aja kalau pergi bisa 27 jam ada di luar rumah biasa aja; ya Allah apakah ada surga hanya dengan taat pada suami yang kerjaannya banyak ngatur; .. dan lain-lain.

Ini hanya fragmen singkat saja, masih banyak drama-drama lainnya yang berkecamuk ketika di awal adaptasi pernikahan.

Jika sudah muncul di dalam benak seperti itu, hilang takzim pada si qolbiy. Inginnya marah, ndak mau bicara, nangis, sampai dibolehkan untuk melakukan ini itu sesuai harapan.

Marahnya saya sebagai perempuan bisa sampai berjilid-jilid, sampai ndak ikhlas membiarkannya tidur tenang sebelum paham apa yang saya inginkan.

Ffhhh, hayati lelah. Karena emosi negatif itu cukup menguras energi, sob. Demi mendapat ketenangan, akhirnya saya memaksa diri membuka buku-buku yang sebelumnya pernah dilahap karena kelaparan, ups..maksudnya lapar ilmu.

Mencoba belajar kembali peran suami dan istri dalam Islam. Mecoba memahami makna keridhoan Allah dalam berumah tangga.

Mencoba mempelajari bagaimana istri-istri Rasul dulu beraktivitas. Mencoba mengkaitkan dengan kehidupan yang saya sekarang.

Alhamdulillah, akhirnya mendapat kata kunci, bahwa laki-laki itu adalah imam bagi istri dan keluarganya.

Ketika si Qolbiy ini kerjaannya ngatur sana, ngatur sini, itu tandanya beliau sedang belajar untuk mempraktekkan perannya sebagai seorang imam.

Dan saya sebagai perempuan, hanya makmum, yang tugasnya sami’na wa atho’na selama tidak ada kemaksiatan yang diminta olehnya.

Untuk poin tentang peran ini, saya sudah sangat hafal sebenarnya. Tapi, praktek di lapangan belum ada. Akhirnya, gagap menjalaninya deh.

Butuh upaya keras memahami keras bagaimana prakteknya. Sampai berkali-kali membaca tentang siroh sahabiyah untuk melihat ketaatan mereka pada sang suami.

Akhirnya, sebagai perempuan yang terbiasa ngatur-ngatur orang, saya harus belajar ikhlas untuk bisa menerima diatur oleh sang Imam. Toh sebenarnya ini adalah doa saya juga.

Ingin mendapatkan suami yang mampu menjadi imam bagi istri dan keluarga, juga bagi umat ini. Saya jadi mengevaluasi diri? Jadi siapa yang salah? Saya? Suami? Atau doa saya salah???

Hingga diri ini bisa menarik nafas sambil senyum malu karena paham siapa yang salah. Jelas yang salah adalah iblis yang mau-maunya godain saya untuk jadi pengikut. Eh, tapi saya juga salah sih, mau-maunya digoda sama iblis, si setan jelek, sok imut, sok bijak..

Hadits ini semakin menyadarkan kesalahan saya,

“sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air, kemudian ia mengutus detasemennya, yang paling dekat dari Iblis adalah yang paling besar fitnahnya. Salah seorang dari mereka datang dan berkata: “aku melakukan ini dan itu.” Lalu salah seorang dari mereka datang dan berkatha: “aku telah melakukan ini dan itu hingga aku pisahkan antara suami dan isteri.” Maka Iblis mendekatkannya dan berkata: “engkau benar”, maka Iblis menggandengnya.” (HR. Muslim, Ahmad, dan Abdu bin Hamid)

Maksudnya apa? Maksudnya adalah, prajurit Iblis paling keren adalah yang berhasil mengacak-ngacak keharmonisan suami istri.

Sampai dedengkotnya Iblis dengan sukarela menyematkan prajurit Iblis sebagai the best Setan of the week.

Iiih, engga banget deh, berkontribusi dalam penghargaan para Iblis itu. Jangan sampeee tergoda sama bisikan-bisikan mereka ya, sobat muslimah.

Mangkanya, kita sebagai perempuan kudu banyak belajar dan belajar. Konon katanya, iblis ini paling gampang menginfiltrasi kaum perempuan, mangkanya banyak perempuan yang masuk neraka.

Cara Menghindari Campur Tangan Iblis

Naah, berikut cara paling ampuh untuk menghindari infiltrasi Iblis dan setan dalam rumah tangga, khususnya bagi kita perempuan yang memang cukup labil emosinya:

  • Menata kembali keikhlasan dalam pernikahan. Tanamkan terus bahwa kita menikah semata untuk mendapat ridho Allah Swt, hingga pernikahan ini harus menjadi wasilah menuju SurgaNya.
  • Belajar dan praktekkan terus mengenai hak dan kewajiban suami istri dalam rumah tangga, banyak buku-buku yang bisa diibaca. Meskipun sudah khatam banyak buku, ndak ada salahnya muroja’ah kembali supaya bisa me-recall mafhum yang keselip-selip.
  • Banyak berkomunikasi dengan suami agar persahabatan dapat terjalin. Komunikasi suami istri itu hanya ada 2. Komunikasi formal dan komunikasi nonformal. Lain waktu kita belajar tentang komunikasi ini yaa.
  • Paling penting, suami istri ini harus sering berdoa, zikir, istigfar, salawat, dan baca Al-Qur’an. Agar Allah Swt selalu menjaga dari berbagai fitnah. Zikirnya harus sering-sering dilisankan ya, sobat muslimah. Masalah ini saya paling sering ditegur, karena kalau ada suami, saya suka malu melisankan zikir. Heee…. saya cuma bilang udah dalam hati, wkkkkk.. dan keluarlah kata mutiara darinya, “kalau zikir itu biasakan di lisan juga, supaya ketika sakaratul maut nanti mudah melafazkan kalimah tauhid karena terbiasa”…dan biasanya masih panjang lagi wejangannya sampai cerita-cerita ngalir dari lisannya.. hee.
  • Saling memaafkan atas berbagai kesalahan yang dilakukan pasangan. Tak ada yang sempurna di dunia ini, yang ada hanyalah berkumpulnya 2 orang dengan penuh keterbatasan dalam satu atap. Itulah kita, suami dan istri. Jangan malu kalau harus meminta maaf dan memaafkan.

Okeh, begitu dulu sharingnya ya, sobat muslimah. Ini artikel pertama di peradaban bintang, setelah absen beberapa bulan lalu. Itung-itung belajar nulis lagi sambil ngelancarin ngetik. Hee..

Ditulis oleh : Sari Yulianti, S.Pd.I

Leave a Reply