Kitab Maharku

Hai dears.. Lama tak sua, semoga semua dalam kondisi sehat, aamiin..

Masih dalam tema mengenang antara aku dengannya, kali ini saya mau share ceritera tentang kisah kitab mahar yang menakjubkan. Iyalah menakjubkan, karena kitab itu ditulis khusus hanya untuk diriku seorang. Romantislaaah.. hee.
Setelah beliau datang ke rumah melamar langsung ke orang tua, saya heran kenapa beliau tidak bertanya tentang mahar yang saya inginkan?

Saya berpikir seperti itu, karena waktu kami menuju akad hanya dalam hitungan pekan lagi (ada sekitar 3 pekan lagi), sementara ada konsep mahar yang tidak biasa yang sudah saya siapkan sebagai tantangan bagi beliau.

Esok harinya, saya dengan ditemani sobat karib, ule sulaesih, berbincang singkat tentang rancangan konsep resepsi, dan teknis lainnya. Kenapa kami bincangkan terlebih dahulu?

Karena ada konsep infishol tamm yang harus diclearkan dulu diantara kami untuk dijelaskan ke orang tua nanti. Setelah clear, baru beliau bertanya,

“Ai, mau mahar apa?”
“Hmm.. Maharnya mah gampang aja, tapi waktunya cukup gak ya?”
“Kalau mahar itu yang memberikan manfaat secara langsung” (hahaahaa.. jadiiii, ternyata beliau nyangka saya minta mahar berupa hafalan surah)
“Ini maharnya bermanfaat sekali, ai mau minta mahar berupa buku. Buku yang ditulis ustadz sendiri, dengan konsep mengambil dari QS. Al-Furqon: 74, tapi dikaitkan dengan konsep pendidikan anak, dan pembahasan merujuk ke kitab-kitab pendidikan berbahasa arab. Tujuannya buku ini nanti bisa dijadiin pegangan Ai untuk ngedidik anak nanti.”

(wajahnya tampak kaget, tapi tetap belagak cool dan mengiyakan..hehe). Gimana gak kaget, bikin bukunya itu Cuma ada waktu sekitar 3 pekan. Dari 3 pekan itu, ternyata beliau gak langsung nulis, karena harus mencari ide judul terlebih dahulu. Sekitar 3 hari judul didapatkan, akhirnya barulah masuk ke membuat tulisan bab per bab.

Cukup menegangkan kisah pembuatan kitab mahar ini, kitab yang akhirnya mengangkat judul “Doa Cinta untuk Muslimah Pembangun Peradaban”.

Dalam waktu 3 pekan ditulis dengan penuh kesungguhan, di sela-sela beliau harus mengurusi masalah seserahan, surat-surat untuk pembuatan buku nikah, masalah resepsi, belum lagi masalah kepanitiaan, dan juga masalah ngajar yang tetap harus beliau lakoni dalam hidupnya.. hehe.

Walaupun begitu, idealismenya dalam menulis tetap diperhatikan. Beliau ke perpustakaan untuk mencari kitab-kitab, ada juga buku-buku yang gak didapatkan di perpus hingga akhirnya harus ke toko buku, dan lain-lainlah.. menegangkan, tapi nyatanya beliau begitu menikmati aktivitas menulis itu.

Setelah melewati berbagai ujian hidup, ditambah pake ngedrop pula karena beliau terlalu mempush diri untuk berpikir menyusun kata-kata yang ringan tapi berkualitas dan mengandung teks pembelajaran, pokoknya luar biasa sekali perjuangannya.

Dan akhirnya, beliau mulai gelisah karena di waktu yang di tetapkan (tanggal 7 september 2018), yang harusnya buku itu sudah selesai diketik, belum rampung juga. Molor 2 hari. Tanggal 9 september 2018 buku itu baru kelar. 6 hari menjelang pernikahan kelar pengetikan, belum masuk ke percetakan. Hehee…

Sebelum masuk percetakan, mulai ngejar adek kosan yang tugasnya buatkan desain buku. Sambil nunggu desain buku, beliau masih melakukan editing tulisan sampai sekitar tanggal 11 september. Si adek pembuat desain buku, nasibnya pun tak kalah menegangkan.

Sampai tengah malam adek ini diteror dalam pembuatan desain. Yang ini kurang oke, yang ini kurang filosofis, yang ini tulisannya begini, yang ini warnanya begitu.. hehe.. hingga sampailah di tanggal 12 september, semua kelar.

Tinggal mencari percetakan. Daaaan, entahlah saya lupa kenapa, percetakan banyak yang tutup saat itu. Luar biasa tegang.

Tanggal 14 september, si kitab mahar yang menakjubkan ini baru jadi dan siap untuk dihias menjadi mahar. Ffhhh… legaaa. Saya cuma bisa bilang, “alhamdulillaah, jadi juga. Kalo gak jadi, pernikahan bisa ditunda ini..hee”

Kitab ini akhirnya dipresentasikan oleh beliau dalam acara resepsi kami. Bagi yang mendengarkan kisahnya, yaa begitulah isi bukunya. Menyenangkan membacanya.

Apalagi ketika pembahasan tafsir juga tentang pembahasan bagaimana bunda-bunda ulama itu mendidik anaknya sampai akhirnya bisa menjadikan mereka sebagai qurrota a’yun. Menetes air mata ini.

Di akhir buku, ada doa special rupanya..
“Adindaku, kupilih engkau menjadi istriku agar engkau menjadi tempat ternyaman untuk keturunanku dan madrasah terbaik untuk mendidik anak-anakku.

Di tanganmu yang halus itu, semoga anakku menjadi manusia agung yang mampu mengukir prestasi langit sehingga peradaban bintang pun dapat terwujud. Selain itu, di balik tengadahmu ke langit dalam lantunan doa-doa dan air mata, semoga sembilan sifat ‘Ibad ar-Rahman dapat kau wujudkan pada anak-anakku kelak”

kitab mahar

kitab mahar

InsyaAllah, abinda.. semoga Allah mengabulkan dan para malaikat di langit dan di bumi pun turut mengaminkan.

Leave a Reply