Dua Dua 25 : Catatan Prosesi Persalinan yang Heroik

aro kaukaba qubaila romadhona

Ditulis oleh : Andi Abu Aro Kaukaba Qubaila Romadhona

Sebetulnya saya tidak terlalu berselera menceritakan pengalaman pribadi. Namun karena hidangan yang tersaji begitu istimewa dan beragam, rasanya terlalu pelit jika saya hanya menikmati sendiri.

Ceritanya bermula sejak tanggal 21 April ketika saya dihadapkan pada dua kegundahan. Pertama karena istri saya akan melahirkan dan sudah mulai mules (baca : mules palsu). Kedua, uang dari Google Adsense belum juga cair. Sementara di rekening, tak ada saldo yang tersisa. “ya rabbi” hanya itu yang saya sebut tanpa lagi melafadz maksud.

Benar saja, Ketika malam tiba, istri semakin sering mules sehingga saya semakin bingung. Saya coba cek lagi Internet Bangking, ternyata masih belom ada penambahan saldo . “ya Allah, jika malam ini lahiran, hmmm kayaknya ke paraji aja deh”. Hiks.

Alhamdulillah ternyata malam itu masih mules seperti sebelumnya (mules palsu) sehingga saya masih punya waktu untuk menunggu uang adsense cair.

Di samping itu saya juga melihat mertua saya sedang tidak memiliki rezeki banyak dan saya mendengar bisik-bisik percakapan mereka “itu si ami -panggilan keponakan ke saya- punya uang nggk ya”

Saya tahu warna obrolan itu mengarah kemana. Intinya mereka juga sedang gundah karena suasana sedang paceklik. Saya kira Wajarlah khawatir.

Singkat cerita, pada jam 10.30 pagi, istri saya mules tajem -pake banget-, ia nggak kuat lagi menahan rasa sakit dan tentu harus segera dibawa ke bidan. Karena nggak ada pilihan, akhirnya saya bawa pake motor. “bismillah”. Nggk usah mikir yg lain bawa aja dulu dompetnya!!!!

Tak lupa Sebelum berangkat saya pastikan lagi saldo IB, kali aja sudah nongol dan ternyata masih bikin geleng-geleng kepala alias belum cair juga. Hmm, saya menghela nafas dan pura-pura menampakkan wajah fine-fine aja sambil bertanya-tanya dalam hati “jangan-jangan google terdampak corona, atau bank Indonesisanya yang lagi macet, biasanya kan tanggal segini udah nongol tuh cicis, hmmm”

Ketika sampe di sebuah klinik, bidannya langsung memeriksa dan hasilnya bikin saya kaget “ketuban sudah pecah” dengan ekspresi wajah mlongo sembari memperlihatkan cairan ijo ke kuning-kuningan seperti Cingcau ke saya.

Lalu dengan entengnya dia bilang “dirujuk aja ya ke rumah sakit. Saya nggak mau kenapa-kenapa”. Woooow…bakal tambah stress lagi nih saya.

Agar ada opini pembanding, saya  jawab saja dengan enteng “nggak, itu bukan pecah ketuban…tapi reaksi si dede di dalam kandungan ketika disentuh sama jemari ibu”.

Si bidan bilang “haaah” dengan nada keheranan sambil ngeluyur keluar ruangan tanpa menghiraukan kalam saya. Setelah itu ia malah telponan sama temannya dan akhirnya minta bantuan teman tsb. Katanya biar ada “second opinion”

Tak lama kemudian teman seprofesinya ini datang dengan tampang mirip -maaf- seperti tukang pecel, badan gendut, celana pendek, baju mirip oblong, rambut merah kucel nggk karu-karuan. dan dengan santuynya ia malah makan-makan dan ngobrol-ngobrol dulu.

Saya heran, katanya ketuban sudah pecah tapi kenapa mereka pada santuy. “astagfirullah,,,,tetap husnudzan wahai calon abu”.

Singkat cerita, setelah ia cek kondisi istri lalu ia mengeluarkan statement yang sama dengan bidan pertama “ketuban sudah pecah” sembari mencopot sarung tangan medisnya. saya tidak menanggapi. Saya hanya bilang “oooooh”.

Positifnya, temannya ini tidak langsung meminta dirujuk ke rumah sakit, ia lebih optimis dari yang onoh “saya akan coba ya semampu saya” katanya. Tentu saja saya senang dengan kalimat itu. “siap, insyaAllah bisa normal” saya menimpali.

Waktu terus berjalan hingga hampir Ashar sementara persalinan belum ada tanda-tanda akan lahir normal. Berbagai upaya dilakukan oleh bidan tetapi nampaknya mereka malah semakin takut.

Akhirnya sebakda Asar mereka melakukan tindakan yang lebih heroik yaitu dengan cara menginduksi, memberi infus dan juga menambah bantuan udara oksigen ke hidung.

Terlihat pada waktu itu dua bidan dengan satu pembantu sangat serius merangsang bayi agar segera keluar. Istri saya juga berupaya ‘ngeden’ sekuat-kuatnya meski tidak membuahkan hasil.

Sekitar pukul 16 an baru nampak ada perkembangan yaitu kepala bayi sudah nongol. “ayo terus…..rambut bayi udah keliatan, apa harus saya tarik nih” canda si bidan.

Istri saya pun terus mengeluarkan tenaganya hingga keringat bercucuran membasahi wajahnya. Saking sakitnya, ia sampai menangis berkali-kali. Oleh karena itu saya berusaha untuk menghiburnya dengan selalu mengusap berkali-kali keningnya, meniupinya dan terus menerus memberikan kalimat positif.

“coba ganti posisi” kata bidan sambil mencontohkan poisis yang ia maksud.

Kemudian istri saya ngeden lagi sembari dibantu duang suara verbal agar ia kuat “ayoooo neng, terus pinter, pasti kamu bisa”. Namun naas, istri saya malah melemah dan tak kuat lagi mengeluarkan energinya.

Ketika saya menampakkan rasa sedih dan mengeluarkan air mata, si bidan malah bilang “jangan sedih, nanti suasananya malah lemah, klo nggk kuat liat yang melahirkan keluar aja. Berdoa mah bisa di luar juga”. Waduuhh…luar biasa nih bidan. tapi saya nggak tanggapi karena momentumnya tidak tepat untuk berdebat.

Waktu terus bejalan sementara si bayi hanya sesekali nongol dan seketika itu pula masuk lagi. Bayangkan, klo start sejak pukul 11 an, berarti prosesi persalinan sudah 5 jam saat itu.

Bukan saja istri saya yang berkeringat, kedua bidan dan satu pembantunya pun nampak kelelahan dan keringatnya bercucuran “mandi keringat gua nih” kata si bidan berambut jabrik gagal pirang itu.

Di sisi yang lain, mertua saya sudah berbisik “nggak apa-apa dibawa ke rumah sakit aja” jleeeeb. Iseng-iseng saya nyoba bertanya ke si dede yang masih di dalam kandungan :

“dede,,,,katanya dede kangen sama abi, katanya pengen segera ketemu abi, katanya pengen segera peluk abi, kenapa dede sulit keluar sayang?”

lalu saya membayangkan jawaban si dede dengan cara memperagakannya :

“abiiiii,,,dede bukan sulit keluar, tapi kerana memang belum diizinkan sama Alloh, belum waktunya biiii, klo udah waktunya dede pasti keluar, dede udah tahu jalannya ko”.

Ucapan itu pun didengar oleh istri saya yang sudah sangat kelelahan. Karena sangat kasihan, saya coba minta pertimbangan ke keluarga di kampung meski tidak secara spesifik, dan jawaban mereka “nggak apa-apa meskipun harus disesar yang penting slamet”. Alamaaak… masalahnya ni dompet belum ada isinya.

“bapak” tiba-tiba si bidan menghadap saya “sebetulnya bagaimana sih posisi si dede waktu USG?” sembari menampakkan wajah keheranan. “nggak tahu bu, soalnya USG terakhir waktu usia 5-6 bulanan, setelah itu nggk pernah USG lagi karena di sini mah da susah nyari USG”.

Dalam konteks ini saya bisa menangkap, ternyata klo nggak ada bantuan teknologi, bidan juga hanya meraba-raba.

Sebaliknya, kadang kalo pake bantuan teknologi, mereka terlalu logic, kalau begini harus begitu, kalau begitu harus begini. Susah tuh nemuin kamus “Greaaaat” “woow” “kook bisa” “nggak nyangka” “ko bisa kieu” “kukumahaan eta” “teu kaharti” dsb.

Dalam konteks biaya, Si bidan juga berkali-kali bertanya “punya bpjs nggk?”. saya selalu menjawab dengan datar, “saya nggak punya”, lalu saya sambung dalam hati “dan saya nggak mau bikin”. wkwkw

Sekitar pukul 17.00 para bidan berupaya sekali lagi dan katanya ini adalah upaya pamungkas, setelah itu mereka akan menyerah. Woow maskin zeru!!!

pak, dengerin saya.. kita akan coba sekali lagi ya mudah-mudahan bisa. Saya hanya kuat sampe jam 17.30, klo nggk bisa juga, saya angkat tangan, bawa saja ke rumah sakit, saya khawatir si dede bayinya kehilangan nafas, terlebih lagi detak jantungnya menurun”. Waduuuuuh, dosa apa sih yang bikin mandeg begini.

Untuk percobaan yang dibilang “sekali lagi” ini, saya nggak mau melihat. Saya putuskan keluar ruangan untuk ambil air wudhu agar doanya semakin khusyuk. “iya bu, silahkan” tetap tanpa mengiyakan siap dirujuk ke rumah sakit. 🙂

Begitu saya selesai berwudhu, tiba-tiba si bidan sudah nelpon mobil ambulan dari rumah sakit yang jarak tempuhnya hanya beberapa menit saja.

“waduh, kacau nih si bidan, ko udah nyerah, pake manggil ambulan segala lagi, kan belum saya okeh kan” begitu gumam saya dalam hati sembari sedikit gigit bibir bawah.

Benar saja, Ketika saya berdoa tiba-tiba ambulan sudah datang “niut niut….totototot….niut niut….totototot” saya hanya menghela nafas “yah………”, saya nggak mau ambil pusing. Pokoknya saya cuekkan aja tuh bidan dan ambulan. Saya fokus berdoa dan saya berharap bidan satunya lagi yang sedang berjuang di detik-detik terakhir membuahkan hasil.

“Allahu robbi, istri saya ini seorang pejuang, Engkau lebih tahu dari aku” sembari mengapit kedua bibir kedalam dengan sedikit mengerutkan dahi dan rada ‘memaksa’.

Luar biasa, Ketika saya hendak masuk ke tempat persalinan tiba-tiba saya sudah mendengar suara “eaaaaa,,,eaaaaa,,,eaaaaa,,,” Allahu akbar, saya langsung sujud syukur dan memohon ampun pada Allah Swt agas segala dosa yang dilakukan. kemudian saya segera masuk ke ruang persalinan.

“Pantesan susahhhh” kata bu bidan yang masih ngos-ngosan itu “leher dan tangannya terbelit ari-ari” sembari menunjuk lehernya seperti sedang memperagakan.

“di samping itu” sambung bidan kedua yang raut wajahnya masih bingung “ketubannya juga udah berwarna ijo kuning,,,kamu tuh ya, harusnya USG dulu biar gampang diambil Tindakan”. saya masih terus dihakimi 😊

Beberapa kali memang si bidan nanya hasil USG, dan seperti yang saya katakan di atas, saya tidak tahu karena USG terakhir dilakukan di usia 5 atau 6 bulan kandungan.

“bapak…..bapak,,,,,untung ini bayi bisa selamet, ini sangat mengerikan, harusnya saya videokan tadi biar viral”. Dalam hati saya “emang nih bidan sosialita, kosa katanya viraaaaaaal mulu.” Sebelumnya sudah saya cek track record bidan ini di medsos, dan memang ia sering selfie. prikitiw!

Tapi ‘ala kulli haal, saya sangat bersyukur karena si dede sudah lahir, tepat mau ganti hari menurut tanggal hijriyah yaitu Rabu, 22 April 2020 pukul 17.15 WIB.

Itulah sepenggal kisah yang terjadi di tanggal Dua Dua. Lantas, apa maksud 25?

Masih semangat mengikutin ceritanya?

Nah sekarang kita ngomong topik kedua yaitu 25, dan ini berkaitan dengan biaya. Beberapa hari sebelum persalinan, saya sudah tanya ke bidan, berapa biaya melahirkan di sini? Bidan tsb bilang, sekitar 1 sd 1,5 juta. Ahah,,,lumayan murah ketimbang di Ciputat & Jakarta.

Setelah semua persalinan selesai saya mulai mikirin biaya. Pertama saya buka lagi IB, siapa tahu uang google adsense sudah masuk dan ternyata memang sudah. Alhamdulillah.

Hanya saja karena sedang terdampak korona, penghasilan saya sedikit menurun bahkan nyaris tidak memenuhi limit pencairan. Tapi saya pikir, meskiipun nggak cukup, kurangnya nggak terlalu banyak lah. Bisa cingcai dulu ke ‘tetangga’.

Yang penting sekarang sudah lega dan ketika itu kita harus nginap dulu satu malam. Terlebih lagi untuk memulihkan kondisi istri yang sudah mandi keringat dan bercucuran darah. uuuh, kamu harus tahu kondisi ini agar tak pernah ada secuil kata pun yang bernada durhaka pada ibumu di sepanjang hidupmu.

Sungguh, saat itu saya senang banget melihat si dede lahir dengan nangis super kencang. Rambutnya lebat dan punya potensi berbewok atau berjenggot. Good!

Untuk jaga-jaga, saya minjam tambahan fulus ke saudara, tapi hebohnya ia malah ngasih info lebih baik dari jawaban yang saya inginkan “nggak perlu minjem, ini ada orang yang ngasih 1 juta, sudah dikirim ke ATM”. Ahah…renyah sekali tuh info.

Tak lama kemudian ada lagi ngejapri “tadi sudah transfer sekian, mudah-mudahan bisa membantu”. Ahah, malaikat kedua nggak mau kalah. Ya Allah, saya degdegan mau berapa malaikat yang akan engkau kirim nih? #autonawar 🙂

Keesokan harinya kami sudah siap pulang. Tentu saja saya harus meneyelaikan biaya administrasinya dulu. “biayanya berapa bu?” tanya saya ke bidan langsung karena PT nya memang masih terbatas. “bentar ya” kata si ibu dengan nada ramah sambil mengambi buku catatan.

“hmmm…berapa ya pak, soalnya ini banyak banget tools yang dipake, biasanya saya hanya menangani yang normal-normal, kemarin juga yang lahiran cuma sebentar di sini. Tapi klo istri bapak kan luar biasa, mau saya tarif 3 juta takut kemahalan, 2.7 juta aja ya”. hmmm

Saya langsung memperkirakan jumlah saldo di rekening, yang saya tahu dari adsense cuma 1,3 juta, ditambah sekian dan sekian lagi belum tahu berapanya. Firasat saya kayaknya kurang. “bu, bisa nggak dikurangi…jadi 2,5 hehe” saya berupaya menawar dengan nada datar.

“hmm gimana ya, yaudah deh ibu, kasih. Sebetulnya mah……yaudah deh gpp”.

Benar saja, ketika saya ambil uang ke ATM jumlahnya pas 2,5 juta. Allahu akbar!!!!! “dede…dede… kau selalu buat kejutan buat abi, semoga kau juga buat kejutan untuk umat kelak”.

Begitulah kira-kira kisah 22 dan 25 (22 tanggal lahir, 2,5 biayanya). Mudah-mudahan dalam setiap episodenya terdapat hikmah yang bisa dipetik, terdapat obat yang bisa jadi penawar luka, terdapat rindu yang bisa mengimajinasi di situ dan terdapat cinta bagi siapa pun yang sedang menantinya.

Hei, kamu yang jomblo, sampai kapan hanya menikmati cerita orang, kapan bikin cerita sendiri? wkwkwk

Muara, 23 April 2020

Leave a Reply