Doa Cinta untuk Muslimah Pembangun Peradaban

Penulis menggandeng kata cinta untuk doa meskipun kata doa sendiri sudah mencakup cinta. Hal ini karena penulis ingin memberikan penjelasan sekaligus penegasan bahwa doa yang dimaksud adalah doa yang memiliki kekhususan. Memang doa cinta ini dipersembahkan untuk istri tercinta, namun tidak menutup kemungkinan doa cinta atau viction ini juga bermanfaat bagi para pembaca yang budiman.

Pembaca yang baik hatinya, penulis dibuat termenung atas surat langit yang memberikan guidance kepada kita agar menjalani kehidupan ini sesuai tuntutan Sang Pencipa alam. Di samping itu, surat langit juga acapkali membocorkan informasi penting mengenai suatu masa dimana kadar lamanya, satu hari berbanding dengan lima puluh ribu tahun di dunia (lihat Q.s. al-Maarij : 4). Tentu saja pemberitahuan semacam ini membuat kita mengatur ulang visi besar hidup kita.

Dalam perenungan yang panjang, ditambah lagi pembacaan yang berulang atas jejak-jejak para عباد الرحمن/’Ibâd al-Rahmân seperti ulama-ulama terkemuka, penulis menemukan satu nilai penting yang tiada banding. Yaitu, hidup untuk mengabdi kepada Tuhan. Dan predikat paling prestise adalah Hamba Allah/عبادالله atau عباد الرحمن/’Ibâd al-Rahmân. Oleh sebab itu, kita saksikan trayek para ulama terkemuka sungguh mengagumkan.

Sebagai contoh, Imam Bukhari misalnya, ia melakukan rihlah ilmiah yang sangat menakjubkan dan nyaris mustahil dilakukan oleh orang-orang masa sekarang. Di samping alur rihlah yang memang luas, ia juga memiliki kualifikasi atau standar yang ketat untuk menilai kelayakan prilaku seseorang agar dapat diterima kesaksiannya.
Selain Imam Bukhari, para imam dan ulama yang lain pun membuat kita terkagum-kagum. Bayangkan, dari total waktu 24 jam, tidur mereka hanya sebentar. Lebih dari setengah waktu mereka digunakan untuk belajar bahkan ketika nyuci baju pun, jika mereka teringat suatu ilmu, mereka akan segera mengambil pena untuk menuliskannya.

Berkali-kali penulis menerawang ulang sekaligus mempertanyakan, apakah ada dalam benak mereka secuil motivasi untuk mendapatkan harta atas ilmunya, atau untuk mendapatkan jabatan tertentu, atau untuk memperoleh pengikut dengan ketenarannya, sungguh, jika kita telaah dalam lembaran-lemabaran karya mereka semisal Bidayatul Hidayah karya al-Ghazali, kita akan temukan bahwa niat menuntut ilmu hanya untuk Allah Swt, dan barangsiapa berniat selain itu, maka ia berada dalam level emergenci alias berbahaya.

Pembaca yang budiman, setelah meng-capture perjalanan hidup para ulama, penulis juga merenungkan narasi atau sebut saja sifat-sifat seorang hamba yang dipotret dengan bersih dalam surah al-Furqon ayat 63-77 sebagaimana yang penulis bahas sebelumnya, mereka yang disebut عباد الرحمن/’Ibâd al-Rahmân memang memiliki sifat yang mulia.

Bagaimana tidak, jika berjalan mereka tidak sombong, jika diseru orang bodoh mereka malah melontarkan kalimat yang mengandung keselamatan, jika dimalam hari mereka bersujud dan berqiyam, jika berinfak mereka tak pelit dan juga tak boros, jika ingin memenuhi naluri melestarikan jenis mereka juga tidak berzina dan dalam kontek akidah, mereka tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun. Dalam bayangan penulis, tatkala mereka hidup di muka bumi nampaknya mereka seperti malaikat tak bersayap.

Penulis tak berlebihan menyebut mereka seperti itu, sebab ada seseorang yang bernama Uwais al-Qorni yang disebut sebagai lelaki penduduk langit. Dalam kisahnya yang masyhur, Uwais adalah orang Yaman yang hidup bersama ibunya yang sudah tua renta.

Selain itu, ibunya juga sudah buta dan lumpuh. Setiap hari Uwais senantiasa melayani ibunya, ia bekerja, ia memenuhi kebutuhan ibunya, ia mencintai ibunya dan ibunya pun amat mencintainya. Baktinya kepada bunda sangat patut dicontoh.

Karena Uwais dan ibunya memeluk Islam, tentu saja mereka memiliki rasa rindu tiada tara untuk bertemu dengan Rasulullah. Setiap hari ia utarakan hal itu. Namun karena kondisi ibu yang tua renta tiada pengasuh, tak mungkin Uwais meninggalkannya seorang diri. Akhirnya rasa rindu yang meletup-letup itu pun ia tahan. Kadangkala tekanan rindu itu berubah menjadi air mata.

Hari-hari berlalu hingga tiba suatu masa dimana ibunya mengizinkan Uwais untuk pergi ke Madinah, menjumpai Rasulullah Saw. Tentu saja Uwais sangat bahagia. Hanya saja Ibunya berpesan agar kepergiannya tidak terlampau lama. “jika sudah berjumpa dengan Rasulullah, segeralah kembali, nak” begitu kira-kira pesan sang Bunda.
Uwais pun menyiapkan bekal untuk Bundanya agar tidak kesulitan selama kepergiannya. Tidak lupa pula Uwais menitipkan bundanya kepada tetangga dekat agar kiranya sudi membantu memenuhi keperluan sang bunda. Akhirnya, Uwais pun pergi menuju Madinah.

Pembaca bisa visualisasikan bagaimana perjalanan Uwais yang dadanya meletup-letup rindu ingin bertemu Nabi, tentu saja perjalanannya pun tanpa jeda. Ia terus berjalan tanpa menghiraukan apa pun, apalagi ia juga teringat pesan bunda agar segera kembali.

Setiba di Madinah, jantung Uwais semakin berdetak tak beraturan. Kerinduan yang luar biasa berjumpa dengan Rasul akan tertumpahkan ketika itu. Karenanya Uwais segera mecari rumah Beliau hingga dalam waktu singkat Uwais sudah berada di depan rumah Aisyah. Tatkala Uwais ketuk pintu dan menanyakan Rasulullah, ternyata Rasulullah sedang berada di medang perang dan Aisyah tentu saja tidak tahu kapan beliau pulang.

Mata Uwais berkilauan, butiran air mata tak kuasa untuk tak bergelantungan di bulu matanya. Hatinya mulai bimbang, di satu sisi ia ingin menunggu kedatangan Rasulullah, namun di sisi lain ia teringat pesan bundanya untuk tak berlama-lama meninggalkannya. Uwais pun dirundung dua rindu, bakti kepada bunda dan rindu bertemu Rasulullah.
Karena Rasulullah tak kunjung pulang, akhirnya Uwais pun menghadap Yaman dan mulai melangkah meninggalkan Madinah. Ia terus berjalan menyusuri kota Madinah tanpa satu pun mengenalnya. Semilir angin yang bertiup di antara daun-daun kurma membuatnya semakin mencium aroma Rasulullah Saw.

Namun apalah daya, ia harus pulang tanpa ia tahu kapan lagi berkesempatan mengunjungi Madinah. Langkahnya semakin menjauh dan jika diteropong dari Madinah, tubuhnya semakin mengecil bahkan nyaris tertimbun pasir. Akhirnya, Uwais pun sudah tak terlihat lagi.

Setelah sekian lama Uwais pulang, Rasulullah pun tiba di Madinah, lalu beliau bertanya kepada Aisyah prihal kedatangan seorang pemuda. Ketika Aisyah mengiyakan, Rasulullah pun mengatakan kepada istrinya bahwa pemuda tersebut adalah penghuni langit. Tentu saja Aisyah terkejut, begitu juga beberapa sahabat yang menyaksikannya ketika di Madinah, mereka semakin penasaran.

Kepada para sahabat, Rasulullah Saw bersabda “jika kalian ingin berjumpa dengannya, perhatikanlah di telapak tangannya, ia memiliki tanda putih” lalu Rasulullah mengarah ke Umar dan Ali seraya bersabda “apabila kalian bertemu dengannya, mintailah doanya dan mohonkanlah istigfar untuk kalian, sebab ia adalah penghuni langit”.

Alhamdulillah, Umar bin Khaththab dan Ali bin Abi Thalib berkesempatan menemuinya di suatu waktu. Tentu saja mereka melakukan apa yang diwasiatkan Rasulullah saw. Kepada Uwais Umar memohon agar dimintakan istigfar, begitu juga dengan Ali. Meski mulanya menolak, akhirnya Uwais pun mengangkat kedua telapak tangannya dan berdoa untuk kedua sahabat mulia itu. Hanya saja, Uwais meminta agar Umar dan Ali menyembunyikan identitasnya.

Ketika Uwais wafat, Yaman dipenuhi oleh orang-orang tak dikenal yang turut menyalatkan dan menguburkan jenazahnya. Tentu saja penduduk Yaman semakin heran, sebab selama ini mereka hanya mengenal Uwais sebagai pekerja gembala kambing yang faqir.

Mereka bertanya-tanya “sebetulnya siapakah engkau, wahai Uwais”. Mereka baru mengetahui ketika berita Rasulullah Saw sampai kepada mereka, yaitu Uwais al-Qorni adalah penduduk langit. Subhanallah.
Sepenggal kisah di atas menampilkan kepada kita bahwa integrasi kecintaan akan mampu membentuk seseorang menjadi insan mulia. Cinta pada Allah dan Rasul-Nya bukan antomin dari cinta kepada ibunda. Malah sebaliknya, cinta kepada bunda adalah bentuk ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, dan orang-orang yang memiliki cinta kepada bundanya, mereka akan menjadi manusia-manusia agung.

Satu hal yang ingin penulis ulang, karena
عباد الرحمن/’Ibâd al-Rahmân hanya bisa dilahirkan melalui pemilihan istri shalihah terlebih dahulu, maka penulis memohon kepada Allah Swt dengan doa cinta yang tulus agar kiranya Allah menjadikan istri penulis sebagai pabrik yang memproduksi عباد الرحمن/’Ibâd al-Rahmân – عباد الرحمن/’Ibâd al-Rahmân yang banyak.

Adindaku, kupilih engkau menjadi istriku agar engkau menjadi tempat ternyaman untuk keturunannku dan madrasah terbaik untuk mendidik anak-anakku. Di tanganmu yang halus itu, semoga anakku menjadi manusia agung yang mampu mengukir prestasi langit sehingga peradaban bintang pun dapat terwujud. Selain itu, di balik tengadahmu ke langit dalam lantunan doa-doa dan air mata, semoga sembilan sifat عباد الرحمن/’Ibâd al-Rahmân dapat kau wujudkan pada anak-anakku kelak.

Jika para pembaca masih mempertanyakan doa cinta seperti apa yang penulis maksud sebagaimana judul buku ini, maka penulis pertegas sekali lagi, doa cinta itu tiadalah lain adalah semoga istri penulis bisa mendidik dan menciptakan manusia-manusia yang berpredikat عباد الرحمن/’Ibâd al-Rahmân. Itu saja, tiada yang lain.

Leave a Reply