Bersahabat dengannya..

Sejak kedua tangan itu saling menggenggam erat, dan sejak lafaz ijab kabul telah membuat langit bergemuruh diiringi dengan doa2 malaikat, sejak itulah status kami berubah menjadi suami dan istri.
Status yang telah mengubah segalanya bagi seorang saya.

Sebelum menikah, saya adalah perempuan mandiri yang hari-harinya penuh dengan seabrek kegiatan. Kemanapun pergi, melakukan apapun, bersama dengan siapapun (tetap dengan mahrom ya..hee),

bahkan terkadang menginap di rumah binaan manapun tak jadi masalah.

Sering juga menginap di sekolahan berhari-hari gak pulang-pulang ke kosan. Sampai kosan seperti kuburan yang tak terawat karena sering ditinggal.

Sebelum menikah, teori tentang pernikahan sudah habis dibaca bahkan hafal diluar kepala, karena saat itu sdh sering menjadi konsultan bagi emak-emak sekitar.

Setelah menikah, Luar biasa.. semua di luar bayangan. Setelah menikah, untuk meminta izin ketika mau rapat aja lupa.

Padahal izin itu kunci paling utama seorang perempuan ketika hendak keluar rumah. hee… Barulah saya paham, kalimat permintaan izin itu bukan kalimat pemberitahuan bagi seorang suami.

Bahkan di awal menikah, saya harus belajar pembiasaan terkait kalimat permintaan izin.. hee.. Jadi teringat, dulu ketika single, ternyata lamaaa gak pernah menggunakan kalimat permintaan izin itu ke wali di rumah.

Karena saya sudah lama hidup sendiri di kosan. Ya Allah…. baru sadar, selama ini saya seperti seorang feminis saja, yang menghilangkan peran wali dalam kehidupan. Astagfirullah…

Dulu, sebelum menikah, saya selalu bersahabat dengan para perempuan. Setelah insaf mengaji (walaupun dulu pernah bandel juga), memilih hidup dalam jama’ah perempuan.

Aktif dalam kegiatan-kegiatan bersama para perempuan, mengajar dengan guru-guru perempuan, bahkan jarang sekali berinteraksi dengan laki-laki kecuali untuk hal2 yang penting saja (kecuali semasa bandel dulu..hee).

kehidupan bersama mereka menyenangkan, kami bercanda, terkadang marahan, baikan lagi, tertawa sepuasnya, saling memberi hadiah, memberi kejutan satu sama lain, nangis bareng, gak punya uang bareng, kelaparan bareng, kenyang bareng, jalan refreshing bareng, bahkan pernah diculik ketika milad di beberapa tahun lalu oleh adik tercinta.

Itulah hubungan persahabatan saya dengan adik-adik perempuan, teman-teman perempuan, kakak-kakak perempuan, dan lainnya di bawah langit Ciputat ini, tapi mereka semua adalah perempuan.

Ketika menikah, bayangkan, saya harus bersahabat dengan seorang lelaki yang bahkan saya pun belum lama mengenalnya. Seorang laki-laki yang karakternya berbeda 180 derajat dengan karakter perempuan.

Saya harus bercanda dengannya,harus tertawa lepas bersamanya, harus merengek merajuk layaknya seorang adik pada kakaknya, oooohhh… hal yang sangaaat harus diusahakan. Saya yang dimana-mana mengayom adik-adik mahasiswa, kemudian sekarang harus menjadi lebih childis.

Bahkan pada orang tua dan kakak di rumah tak pernah sama sekali merengek masalah apapun, namun hal itu harus diushakan bisa dilakukan pada suami yang baru saja saya kenal.. hehe.. sulit sulit nikmat.. wkkkk…

Akhirnya, yang membuat saya bisa memunculkan rasa persahabatan dengan suami itu adalah ketika hukum syara’ menjadi pegangan dalam berumah tangga.

Ketika mengingat bahwa ada banyak pahala ketika diri ini dapat tertawa lepas di hadapan suami, ada banyak pahala ketika jemari ini mampu menyalami dengan penuh cinta jemari suami,

ada banyak pahala ketika kami tertawa bersama bahkan malaikat pun ikut tertawa juga, ada banyak pahala ketika masakan hasil tangan ini terhidangkan di hadapan suami dan suami senang dengan apa yang kita hidangkan,

ada banyak pahala ketika seorang istri merengek di hadapan suami dan mengatakan saya tidak ada apa-apanya dibandingkan keimananmu sehingga pimpinlah saya dengan iman dan ilmumu menuju JannahNya.

Dengan hukum syara juga, saya teringat ada dosa besar ketika seorang istri berwajah kusam di hadapan suami, ada dosa besar ketika kesal akhirnya memilih untuk membentak suami bahkan walaupun hanya sekedar menaikkan nada suara 1 not saja,

ada dosa besar ketika tidur membelakangi suami, ada dosa besar ketika suami meneteskan air mata karena kesalahan istri, ada dosa besar ketika pergi kemanapun tanpa izin dari suami dan lain-lainnya.

Saya semakin sadar dengan pengalaman empiris yang sudah dilalui, bahwa hukum syara lah yang akan menunjuki dan menjaga perjalanan panjang kami,

perjalanan seumur hidup bersamanya, perjalanan yang tidak selalu menyenangkan tapi ada juga batu terjal dan duri yang akan kami temui.

Pahami hukum syara’, maka Allah akan menjaga ikatan yang berat ini. Berat karena setan senantiasa ada di sekitar para istri. kenapa? karena emosional para istri itu lebih tidak stabil dibandingkan para suami..hehee..

walaupun tidak menutup kemungkinan, setan juga selalu menggoda para suami. Namun yakinlah seorang suami yang beriman dan berilmu akan lebih mudah menangkal godaan2 tersebut. hahaa..

Suatu hari, beliau mengucapkan “You are beautiful more than I can see”, waah.. saya terbang saat itu juga. Tapi taukah, dears, kenapa kalimat itu bisa terucap?

Karena kata beliau perempuan yang memiliki agama yang baik itu lebih tampak cantik luar dalam ketika sudah menikah. Sehingga suami lebih merasa tenang dan tentram di rumah, dibandingkan seorang perempuan yang berwajah cantik bak bidadari tapi agamanya rapuh.

Jadi, bagi yang belum menikah, ayo perkuat iman dan ilmu. karena kehidupan ini tak akan berjalan baik tanpa kedua hal itu.

Bagi yang sudah menikah, juga harus memperkuat iman dan ilmu, agar perjalanan menghadapi riak-riak gelombang, badai besar, angin puting beliung, bahkan angin tornado bisa teratasi hingga sampailah kaki2 ini ke tempat yang kita rindui bersama dengan orang-orang yang kita sayangi.

Rabu, 16 Januari 2019
Ketika ku semakin mencintaimu melebihi kecintaanku pada bintang.

Leave a Reply