Before Meet Him..

 

Libur semester di sekolah sudah hampir usai. Tak ada yang istimewa, selain dua pekan bisa full bersama dengan keluarga, menghabiskan Ramadhan dan berlebaran bersama dalam canda tawa.

Dua pekan saja dari jumlah total liburan yang seharusnya 8 pekan. Haha… Entahlah itu nasib atau pilihan hidup, setiap tahun selalu seperti itu. Walaupun liburan panjaang, tapi tetap aktivitas libur masih sama seperti hari-hari biasanya, kesibukan tiada henti.

Perkenalkan, saya adalah Sari. Pengelola home schooling tingkat SD di salah satu sudut Ciputat. Biasa anak-anak panggil saya Kepala Sekolah di home schooling tersebut. Di kolong langit yang penuh dengan keromantisan dan kemesraan itulah, saya berjibaku dengan berbagai urusan.

Dalam kesendirian, semua urusan dapat dikerjakan dengan fokus dan totalitas, termasuk urusan sekolah. Saya menulis dalam kesendirian, karena saat itu saya memang masih sendiri (berbeda ketika sedang menulis sekarang yang sudah tidak sendiri lagi- eyaaaa..haha).

Baku hantam dengan laptop, mondar-mandir bersama dengan sahabat rasa adik yang selalu siap mengantar kemana saja dan kapan saja, menjadi kenikmatan tersendiri saat itu. Walaupun bumi Ciputat pada masa itu masih sangat sepi karena sedang musim libur.

Alkisah, saat itu ada banyak urusan sekolah yang harus segera diselesaikan menjelang tahun ajaran baru tiba.

Entahkah masalah modul-modul (yang kami buat sendiri karena kebutuhan kurikulum), perapihan administrasi, perapihan gedung baru sampai pindahan barang-barang dari gedung lama ke gedung baru, pengadaan fasilitas dan sarana prasarana yang dibutuhkan dalam proses pembelajaran, daaan masih banyak lagi, sampai hal yang paling krusial, masalah kebutuhan SDM guru.

Saya akan menceritakan tentang kebutuhan SDM guru, karena poin inilah yang akan membuat tulisan-tulian dalam web ini berlanjut terus..hee..

Lanjuuuttt….

Jadi, saat itu, sekolah sedang membutuhkan dua orang SDM lagi untuk dijadikan sebagai pengajar. Waktu terus berjalan, hanya tersisa dua pekan lagi sampai kita masuk sekolah.

Kenapa sampai terjadi seperti itu? Karena yang seharusnya menjadi tenaga pengajar, mengundurkan diri ketika sebelumnya sudah fix bisa mengajar.

Dalam waktu yang sempit, mulailah melakukan pengamatan mendalam terhadap adek-adek mahasiswa yang ada di sekitar kosan.
Yap, alhamdulillah satu SDM guru berhasil didapatkan. Fokus satu lagi.

Dalam kebingungan, ada pesan whatsapp masuk. Dari seorang ikhwan yang sebelumnya pernah ditawari untuk menjadi guru, tapi belum bisa karena masih ada beberapa urusan.

Beliau bertanya tentang kebutuhan pengajar, karena ada temannya yang berniat melamar menjadi pengajar. Yess.. Ada angin segar rupanya. Tanpa basa-basi saya pun langsung iyess ajalah. Hee..

Saat itu, saya hanya bertanya, apakah beliau bisa mengajar tahfidz? Apakah beliau ada basic untuk mengajar Al-Qur’an ke anak-anak? Jawaban yang saya dapat adalah jawaban penjelasan, bukan ya atau tidak. Bikin bingung gitu sebetulnya..hee. jawabannya: beliau pernah mengajar tahfidz kelas 5 dan 6. Kompetensi beliau adalah skill bahasa Arab.

Hmmm…. Saya pikir luar biasa. Di luar dugaan, Allah mendatangkan guru hebat nih. Qodarullah banget, kita di sekolah juga sedang ada mata pelajaran baru, yaitu bahasa Arab.

Berkaca-kacalah mata ini… haha, biasa baperan. Terasa Allah memberikan yang terbaik untuk rencana ke depan, eiitt.. maksudnya rencana pembelajaran di sekolah yaa.

Yang jelas mah, senang sekali bisa dapat pengajar yang sesuai kebutuhan sekolah, di luar ekspektasi sebelumnya lagi. Kayak keruntuhan durian matang dan siap santap, saking senangnya.

Saat itu juga, saya meminta pengajar baru itu memasukkan CV lamarannya via whatsapp.
Setelah CVnya diterima, ada pertanyaan mengganjal dalam hati..
Hmm… sepertinya namanya sudah tak asing. Lalu.. siapakah beliau???

(Nyambung aah. Wait next partnya yaa..)

Bagi yang suka nyantai di tempat wisata coba cek di situs wisataka

Leave a Reply