Before Meet Him, Part 2

 

Hai Dear, lanjutin ngerumpi yuuk.. hee. Ciri khas emak rempong emang ngerumpi.. wkk.

Kelanjutan kisah kemarin, pasti penasaran kan siapa nama si pelamar itu????

Tertulis di pesan whatsapp, CV LAMARAN. Saat menerima message itu, rasanya dag dig dug. Sambil membatin, ini sebenarnya CV lamaran untuk jadi guru, atau ada misi terselubung melamar Kepseknya untuk menikah (ups, sudah lupakan)

Nama yang tertera Andi Saepudin. Selintas terpikir seseorang bernama Andi Badren. Apakah ada kesamaan antara Andi Saepudin dengan Andi Badren? Siapakah Andi Saepudin? Siapakah Andi Badren? Kenapa terpikir Andi Saepudin adalah Andi Badren? Karena ada indikasi yang sama, keduanya sama-sama kompeten dalam bidang bahasa Arab.

Saat itu, saya belum mengenal siapa Andi Saepudin. Tetapi kalau Andi Badren, cukup sering mendengar nama tersebut.

Sebelumnya, saya suka mendengar adek-adek di kosan bercerita tentang Andi Badren, ikhwan yang pandai bahasa Arab-memiliki lembaga kursus-tsaqofah keIslamannya luar biasa. Pernah juga beberapa kali berkomunikasi dengan beliau dalam rangka meminjam tempat untuk rapat.

Saat itu, berkomunikasi hanya via whatsapp dan tidak pernah sekalipun tahu wajahnya seperti apa. (Belakangan saya baru ngeuh ternyata pernah sekali berjumpa sekilas dengannya).

Itulah singkatnya tentang Andi Badren. Andi Saepudin? Oww.. saya tidak tahu siapa beliau. Yang saya tahu, beliau alumni kampus Islam di Ciputat. Memiliki skill bahasa Arab. Itu saja.

Lumayan penasaran, akhirnya saya banyak bertanya ke adek-adek di kosan. Kira-kira begini pertanyaannya, “Kenal Andi Saepudin kah?” rata-rata jawaban dari adek-adek adalah….. “enggak”.

Masih penasaran juga, saya tanya lagi ke yang lain, “Andi Badren itu nama asli atau nama palsu sih?” hahaa.. pertanyaan aneh saya pikir. Akhirnya ada adek yang jawab, “Andi Badren itu penulis kak. Beliau pake nama itu untuk nama pena”.

Hmm…. Akhirnya ada titik terang… Jadi, asumsi Kepsek semakin menguat, bahwa Andi Badren adalah Andi Saepudin, begitupun sebaliknya.

Kenapa saya penasaran banget, soalnya saya terpikir, hebat sekali jika ada orang hebat melamar ke sekolah yang saya kelola. Beruntungnya anak-anak, memiliki guru yang pandai. Itu sih, alasannya kenapa sampai penasaran sekali.

Tibalah masanya rapat pra-Raker. Ustadz Andi Saepudin tak kunjung hadir dalam rapat, dengan alasan karena ikhwan sendiri. Beliau malu kalau harus ada di antara guru-guru akhwat. Beruntung kepseknya baik hati, saya iyakan untuk tidak hadir dalam rapat.

Karena masih penasaran, saya masih bertanya ke guru yang pernah kursus di lembaga ustadz Andi Badren.
“Fa, ada yang ngelamar jadi guru. Namanya Andi Saepudin. Fa kenal ga? Ini tuh Ust. Andi Badren bukan sih?”

Yang ditanya menjawab dengan penuh keyakinan, “Iya kak, Ust. Andi Badren itu Ust. Andi Saepudin, guru bahasa Arab Syifa. Beliau ngelamar ke sekolah kita kak?”….. bla, bla, bla… ngerumpilah kita akhirnya….

That’s right. Benarlah asumsi saya. Semakin senang bu Kepsek. Kenapa? Karena guru yang ngelamar ke sekolah adalah orang hebat. (Ini contoh Kepsek yang termakan testimony, padahal belum pernah membuktikan sendiri.. hee).

Clear sudah mengenai latar belakang ust. Andi Saepudin. Akhirnya bu Kepsek semakin yakin untuk mulai promo ke yayasan dan wali murid, bahwa ada guru baru yang memiliki kedalaman tsaqofah dan kemahiran ilmu bahasa Arab bergabung di sekolah untuk bersama mendidik anak-anak mereka.

(Sekali lagi, sampai saya mempromosikan beliau, belum pernah sekalipun saya bertemu dengan guru baru ini. Saya juga belum tau seberapa berkualitasnya beliau, karena belum pernah berinteraksi lebih kecuali dalam peminjaman tempat saja. Dalam hati tetap ketar-ketir, jangan sampe udah dipromoin ternyata nanti gak bisa ngajar anak-anak..hmm).

Setelah terjadi dinamika yang luar biasa sebelum memulai mengajar, akhirnya ustadz Andi ini mulai menampakkan dirinya di hadapan Kepsek pada hari Selasa, 10 Juli 2018.

Dengan kemeja biru dan celana hitam. Pake nyasar pula. Sekolah di pinggir jalan, bisa-bisanya beliau tak melihat.

Pertama kali jumpa, saya hanya membatin, “oo, ini Ustadz Andi Badren”. Cukup sampai disitu. Hehe… kan harus godhul bashor.

Singkat kisah, proses pembelajaran berjalan seperti biasa sesuai jadwal. Bu Kepsek pun sudah larut dengan berbagai aktivitas luar dan dalam sekolah.

Yang banyaknya sih, aktivitas di luar sekolah. Ustadz dan ustadzah pun sudah sibuk dengan aktivitas mengajar anak-anak.

Bagaimana dengan kualitas mengajar Ust. Andi Saepudin? Oww.. kereenn. Anak-anak banyak yang suka dengan beliau. Bahkan 1 siswi yang selama ini belum tertaklukan, mampu ditaklukan olehnya. Applause for him….

Testimoni bu Kepsek saat itu adalah, “ilmunya banyak, beruntung sekali kalau bisa banyak mendapat ilmu darinya”. Muncul kekaguman atas keilmuan beliau.

Sambil berpikir, baiknya beliau dijodohkan dengan ustadzah siapa yaa. Saya berpikir, sayang sekali kalau beliau tidak dijodohkan dengan ustadzah kesayangan bu Kepsek.

Di saat masih mencari cara untuk menjodohkan beliau dengan seorang ustadzah di sekolah ternyata hal fantastic terjadi di luar dugaan.

Sebulan kemudian, qodarullah, Ustadz Andi yang tadi melamar menjadi guru via whatsapp, kemudian melamar Kepsek via whatsapp juga. Bedanya lamaran kedua sudah tanpa CV Lamaran, tidak seperti lamaran yang pertama.
Perjodohan dengan ustadzah tidak jadi dilakukan.. hee..

Ketika dilamar, bu Kepsek senangnya luar biasa. Dilamar oleh orang yang beriman dan berilmu itu kenikmatan yang incredible banget. Sulit diungkapkan dengan kata-kata.

Sampai sini, muncul sebuah kesimpulan besar:

Yakinlah, dear..
Allah itu Maha Mengetahui yang terbersit dalam hati.
Tidak usah memaksa Allah untuk mendatangkan yang kita mau, karena Allah lebih mengetahui desain yang pantas untuk kehidupan kita ke depannya.

Waktu itu, saya kagum atas ilmunya ustadz yang satu itu. Tapi, saya pahamlaaah, usia kita terpaut jauh.. haha. Jadi, saya hanya mengagumi sambil berdoa semoga Allah mendekatkan hamba dengan orang yang berilmu.

Saya pecinta ilmu dan saya senang dengan orang-orang yang mencintai ilmu. Itu saja. Saya sadar diri untuk tidak berdoa, “ya Allah, jadikan Ia jodoh hamba”. Sadar diri, takut beliau terzolimi oleh usia saya. hahaha..

Ternyata ooh ternyataaa, dalam waktu singkat Allah menjawab semua hal yang terbersit dalam hati. Bersitan yang tak pernah terungkapkan kepada siapapun.

Ketika lamaran itu tiba, diri ini cuma bisa senyum-senyum aja, sambil berpikir, doa-doa selama Ramadhan kemarin dikabulkan oleh Allah. The next, butuh pertanggungjawaban berat di hadapan Allah nih, atas permintaan yang Beliau kabulkan tepat sesuai keinginan.

Ya Allah, bantu hamba mempertanggungjawabkan nikmat ini..

Leave a Reply